Museum Purbakala Sangiran
Pada kesempatan kali ini saya Muhamad Rayhan Muzakky Muthhohari (193141030) akan membahas mengenai situs manusia purba Sangiran. Situs ini merupakan salah satu Warisan Dunia yang ditetapkan UNESCO pada tanggal 6 Desember 1996. Situs terletak di Propinsi Jawa tengah yang meliputi dua kabupaten yaitu Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar. Luas Situs Sangiran yang diakui oleh UNESCO adalah 56 km sebagai Daerah Cagar Budaya. Pada tahun 1977 di Situs Sangiran didirikan sebuah museum dengan nama Museum Prasejarah Sangiran.
Awal dikenalnya Sangiran oleh dunia adalah dengan kedatangan para peneliti asing yang pada masa itu Indonesia masih dijajah Belanda. Eugene Dubois pernah datang meneliti di Sangiran tapi hasilnya tidak sesuai dengan harapan dan kemudian dia memutuskan memindahkan lokasi penelitiannya. Pada tahun 1891, Dubois menemukan fosil Pithecanthropus erectus di Trinil Ngawi. Peneliti yang datang meneliti di Sangiran adalah von Koenigswald yang menemukan fosil Homo erectus serta berbagai fosil binatang.
Museum Purbakala Sangiran beserta situs arkeologinya selain menjadi destinasi wisata edukasi yang menarik juga merupakan area penelitian tentang kehidupan pra sejarah yang paling penting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia. Museum ini menyimpan informasi lengkap tentang pola kehidupan manusia pra sejarah di Jawa yang telah memberikan banyak sumbangsihbagi perkembangan ilmu Antropologi, Arkeologi, Geologi, dan Paleoanthropologi.
Di dalam museum purbakala Sangiran menyimpan puluhan ribu fosil dari jaman pleistocen (lebih dari dua juta tahun yang lalu). Sampai saat ini temuan fosil di Sangiran untuk jenis hominid purba (diduga sebagai asal evolusi manusia) ada 50 jenis atau individu. Fosil yang ditemukan di wilayah ini merupakan 50 persen dari temuan fosil di dunia dan 65 persen dari temuan di Indonesia. Hingga saat ini telah ditemukan lebih dari 13.685 fosil, di mana 2.931 fosil ada di museum dan sisanya disimpan di gudang penyimpanan. Ruang pameran museum purbakala Sangiran ini terbagi menjadi beberapa bagian. Tiap-tiap ruang pameran tersebut menyuguhkan berbagai fosil jutaan tahun lalu yang tertata rapi, dilengkapi dengan keterangan fosil tersebut. Ruang pameran juga dilengkapi dengan AC, sehingga pengunjung dapat menikmati dan belajar apa yang ada di sana dengan nyaman.
Di dalam museum ini kita bisa melihat fosil manusia purba diantaranya adalah Australopithecus africanus, Pithecanthropus mojoketensis (Phitecanthropus robustus), Meganthropus palaeojavanicus, Pithecantropus erectus, Homo soloensis, Homo neanderthal Eropa, Homo neanderthal Asia, dan Homo sapiens. Kemudian fosil mamalia purba ada gajah purba seperti Elephas namadicus, Stegodon trigonocephalus, dan Mastodon sp. Terdapat juga fosil dari Bubalus palaeokarabau (kerbau), Felis palaeojavanica (kucing), Sus sp. (babi), Rhinoceros sondaicus (badak), Familia Bovidae (sapi), dan Cervus sp. (rusa). Selanjutnya ada juga fosil binatang air diantaranya adalah Crocodilus sp. (buaya), Hippopotamus sp. (kuda nil), Chelonia sp. (kura-kura), ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, mollusca (Pelecypoda dan Gastropoda), serta foraminifera. Dan kita bisa melihat juga alat-alat bekas peninggalan manusia purba yang berupa batu yang digunakan untuk mendukung kehidupan manusia purba diantaranya adalah serpih, bilan, serut, gurdi, kapak persegi, bola batu, dan kapak perimbas-penetak.
Komentar
Posting Komentar